Minggu, 01 Juli 2012

BAB IV


BAB IV
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.1  Pelaksanaan Manajemen Kinerja Pegawai di RSU dr. Slamet Garut
Manajemen kinerja proses yang sistematik, artinya untuk memperbaiki kinerja diperlukan langkah-langkah atau tahapan-tahapan yang terencana dengan baik. Dalam hal ini manajemen kinerja merupakan suatu pendekatan sistematik untuk memperbaiki kinerja melalui proses berkelanjutan dalam penetapan sasaran-sasaran kinerja strategik, mengukur kinerja, mengumpulkan, menganalisis, menelaah, dan melaporkan data kinerja serta menggunakan data tersebut untuk memacu perbaikan kinerja.
Dalam pelaksanaan manajemen kinerja, maka dibutuhkan perangkat-perangkat yang akan mendukung manajemen kinerja dilaksanakan disebuah organisasi, dalam hal ini adalah Bagian GAKIN RSU dr. Slamet Garut. Manajemen kinerja sangat urgen keberadaannya untuk dapat mengukur suatu kinerja pegawai yang sistematik dalam pelaksanaan pekerjaannya, sehingga dapat memberikan suatu bahan evaluasi dalam perbaikan kinerja. Pegawai akan melakukan suatu pekerjaan atas tugasnya sesuai dengan manajemen kinerja yang telah digariskan oleh Bagian BAGKIN RSU dr. Slamet Garut, dan hal ini akan menjadikan acuan untuk bahan lebih lanjut dalam pengimplementasian kinerja di lapangan, khususnya dalam pelayanan terhadap keluarga miskin (GAKIN).
Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan manajemen kinerja pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Slamet Garut, berikut penulis paparkan berdasarkan hasil wawancara dan penyebaran angket yang penulis lakukan kepada responden, di bawah ini :
1.      Dimensi Penempatan Tujuan
1)      Indikator menetapkan tujuan yang spesifik
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka menetapkan tujuan yang spesifik adalah sangat penting guna memberikan suatu arahan yang fokus bagi pegawai untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan koridor manajemen kerja yang telah terspesifikkan. Tujuan spesifik ini adalah bagaimana memberikan pelayanan yang memuaskan customer. Spesifik ini akan menimbulkan suatu efektivitas serta efisiensi bagi pegawai dalam melaksanakan tugasnya karena pekerjaan yang ada dalam pelaksanaannya sudah fokus tanpa melebar. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang menetapkan tujuan yang spesifik dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.1
Tanggapan Responden tentang Menetapkan Tujuan yang Spesifik Dalam Manajemen Kinerja Pegawai di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
8
4
0
67
33
0
2,00
0,67
0,00


12
100
2,67
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang menetapkan tujuan yang spesifik, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 8 responden (67%) menyatakan ya dalam menetapkan tujuan yang spesifik, sebanyak 4 responden (33%) menyatakan ragu-ragu dalam menetapkan tujuan yang spesifik, dan sebanyak 0 responden (0%) menyatakan tidak tahu dalam menetapkan tujuan yang spesifik.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa menetapkan tujuan yang spesifik dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya sangat baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,67. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi sangat baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya penetapan tujuan yang spesifik. Bentuk konkrit dari hal ini adalah adanya suatu visi, misi serta adanya tugas pokok dan fungsi di BP RSUD dr. Slamet Garut sehingga kinerja di Bagian GAKIN memiliki tujuan yang spesifik sesuai draft visi, misi, tugas pokok dan fungsi RSU dr. Slamet Garut.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 33% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam menetapkan tujuan yang spesifik masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah mengkomunikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam visi, misi, tugas pokok dan fungsi ke setiap pegawai di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menetapkan tujuan yang spesifik, yakni memberikan pelayanan yang maksimal sehingga  memuaskan bagi customer.


2)      Indikator Menetapkan tujuan yang terukur
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka menetapkan tujuan yang terukur adalah sangat penting guna memberikan suatu arahan yang dapat dijangkau bagi pegawai untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan koridor manajemen kerja yang telah digariskan. Tujuan yang terukur akan memberikan kepastian kepada pegawai untuk melaksanakan tugasnya secara tepat dan sesuai untuk hasil akhirnya. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang menetapkan tujuan yang terukur dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.2
Tanggapan Responden tentang Menetapkan Tujuan yang Terukur Dalam Manajemen Kinerja Pegawai di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
5
6
1
42
50
8
1,25
1,00
0,08


12
100
2,33
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang menetapkan tujuan yang terukur, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 5 responden (42%) menyatakan ya dalam menetapkan tujuan yang terukur, sebanyak 6 responden (50%) menyatakan ragu-ragu dalam menetapkan tujuan yang terukur, dan sebanyak 1 responden (8%) menyatakan tidak tahu dalam menetapkan tujuan yang terukur.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa menetapkan tujuan yang terukur dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,33. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh relatif dapat dilaksanakannya penetapan tujuan yang terukur. Ini dilaksanakan meliputi penentuan beban kerja yang diemban oleh pegawai diukur sesuai jam kerja setiap hari di RSU dr. Slamet Garut, yakni 8 jam kerja per hari.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 50% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam menetapkan tujuan yang terukur masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah harus jelasnya pemberian beban tugas kepada pegawai dengan jumlah jam kerja yang diberikan, serta pula harus adanya target-target yang harus diselesaikan dalam pekerjaan pegawai untuk diukur kemampuannnya dalam proses manajemen kinerja. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menetapkan tujuan yang terukur, dimana tujuan yang terukur ini meliputi penyelesaian pelayanan terhadap customer yang rata-rata per harinya 120 customer harus dapat terlayani dengan baik sesuai dengan jam kerja selama 8 jam.

3)      Indikator Menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis untuk dilakukan
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis untuk dilakukan adalah sangat penting guna memberikan suatu penentuan ketercapaian pekerjaan yang dapat diselesaikan. Ini akan menimbulkan suatu ketercapaian dan penyelesaian pekerjaan yang realistis dan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Bentuk dari adanya tujuan yang menantang tetapi realistis untuk dilakukan yakni pencapaian pelayanan terhadap customer yang perharinya rata-rata 120 customer untuk dapat dilayani secara cepat dan memuaskan. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis untuk dilakukan dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :


Tabel 4.3
Tanggapan Responden tentang Menetapkan Tujuan yang Menantang Tetapi Realistis untuk Dilakukan dalam Manajemen Kinerja Pegawai
di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
4
4
4
33
33
33
1,00
0,67
0,33


12
100
2,00
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 4 responden (33%) menyatakan ya dalam menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis, sebanyak 4 responden (33%) menyatakan ragu-ragu dalam menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis, dan sebanyak 4 responden (33%) menyatakan tidak tahu dalam menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,00. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh relatif dapat dilaksanakannya penetapan tujuan yang yang menantang tetapi realistis. Bentuk konkret di lapangan adalah adanya program kerja sebagai sasaran pokok RSU dr. Slamet Garut yakni meliputi :
a)       Adanya peningkatan rujukan rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas ke rumah sakit, yakni sebelum penelitian dilakukan ada 95 customer yang rawat inap dan rawat jalan, dan setelah penelitian menjadi 120 customer yang rawat inap dan rawat jalan;
b)       Adanya peningkatan wilayah cakupan pelayanan ke rumah sakit dari 18 Kecamatan menjadi 37 kecamatan di Kabupaten Garut;
c)       Adanya penurunan keluhan dari masyarakat berupa keluhan lambatnya pelayanan dan adanya peningkatan kepuasan pelanggan;
d)      Adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan petugas;
e)       Adanya peningkatan kepuasan bekerja para petugas.

Di lihat dari penetapan tujuan sasaran, tentunya belum dapat tercapai seluruhnya, apalagi  masih ada sekitar 33% responden yang menjawab ragu-ragu dan tidak tahu, ini berarti dalam menetapkan tujuan yang menantang tetapi realistis masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah diberikan pembinaan oleh pimpinan kepada pegawai dalam hal adanya pencapaian tujuan yang harus dicapai oleh organisasi. Sehingga diharapkan para pegawai mampu melaksanakan penetapan tujuan yang menantang tetapi realistis itu.

4)      Indikator Meningkatkan motivasi
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka meningkatkan motivasi pegawai adalah sangat penting guna menimbulkan semangat kerja sehingga dapat melaksanakan tanggung jawab pekerjaannya sesuai dengan tugasnya. Ini akan menimbulkan suatu antusiasme pegawai yang akan meningkatkan produktivitas kerja serta penstabilan emosi pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang meningkatkan motivasi pegawai dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.4
Tanggapan Responden tentang Meningkatkan Motivasi Dalam Manajemen Kinerja Pegawai di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
2
8
2
17
67
17
0,50
1,33
0,17


12
100
2,00
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang meningkatkan motivasi pegawai, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 2 responden (17%) menyatakan ya dalam meningkatkan motivasi, sebanyak 8 responden (67%) menyatakan ragu-ragu dalam meningkatkan motivasi, dan sebanyak 2 responden (17%) menyatakan tidak tahu dalam meningkatkan motivasi.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa meningkatkan motivasi dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,00. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya peningkatan motivasi teerhadap pegawai. Bentuk motivasi yang jelas yang berada di lapangan adalah berupa pemberian gaji yang memadai, adanya kenaikan pangkat/ golongan secara rutin, mutasi, serta dorongan moril dari atasan.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 67% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam meningkatkan motivasi masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah diberlakukannya punish and reward yakni suatu hukuman bagi mereka yang melanggar atau lalai dalam manajemen kinerja yang telah digariskan serta pemberian penghargaan bagi mereka para pegawai yang melakukan kontribusi serta kinerjanya yang baik. Sehingga diharapkan para pegawai mampu meningkatkan motivasi.

2.      Dimensi Penilaian Kinerja
1)      Indikator kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi adalah sangat penting guna memberikan suatu sinergisitas dan keterpaduan antar satu pegawai dengan pegawai yang lain, antara pimpinan dengan pegawai, antara pegawai dengan customer, atau antara satu bagian dengan bagian lain. Ini akan menimbulkan suatu kohesipitas dalam melaksanakan pekerjaan pegawai. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang kesesuaian hubungan standar kerrja dengan tujuan organisasi dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.5
Tanggapan Responden tentang Kesesuaian Hubungan Standar Kerja dengan Tujuan Organisasi Dalam Manajemen Kinerja Pegawai di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
P
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
9
3
0
75
25
0
2,25
0,50
0,00


12
100
2,75
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 9 responden (75%) menyatakan ya dalam kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi, sebanyak 3 responden (25%) menyatakan ragu-ragu dalam kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi, dan sebanyak 0 responden (0%) menyatakan tidak tahu dalam kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya sangat baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,75. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi sangat baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi. Standar kerja yang diterapkan di Bagian GAKIN RSU dr. Slamet Garut sesuai dengan Keputusan Menteri Pendayagunaan Paratur Negara Nomor : KEP/25/M.PAN/2/2004 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasaan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Sementara untuk tujuan organisasi tertuang dalam arah kebijakan RSU dr. Slamet Garut sebagai tujuan pokok yang meliputi :
a)      Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit;
b)      Agar 90% kegiatan operasional rumah sakit dapat dibiayai dari pendapatan sendiri;
c)      Meningkatkan akuntabilitas publik terhadap kemampuan pengelolaan rumah sakit;
d)     Petugas melaksanakan tugasnya secara profesional, aman dan nyaman.

Sinergisitas antara standar kerja dengan tujuan organisasi tersebut belum sepenuhnya optimal, apalagi bila dilihat dari hasil jawaban responden bahwa masih ada sekitar 25% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam kesesuaian hubungan standar kerja dengan tujuan organisasi masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah penegasan kepada para pegawai untuk mampu menjalankan standar kerja yang digariskan peraturan perundang-undangan serta pemberian pemahaman akan tujuan yang harus dicapai oleh Bagian GAKIN RSU dr. Slamet Garut. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menerapkan standar kerja dengan tujuan organisasi yang sinergis.



2)      Indikator pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan pegawai
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan pegawai adalah sangat penting guna memberikan suatu kredibilitas serta kapabilitas seorang pegawai dalam memegang suatu tugas pekerjaan. Ini akan menimbulkan suatu kualitas yang terjamin dikarenakan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai sesuai dengan jabatan yang didudukinya. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan pegawai dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.6
Tanggapan Responden tentang Pertimbangan dengan Jenis Pekerjaan
dan Jabatan Dalam Manajemen Kinerja Pegawai
di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
3
8
1
25
67
8
0,75
1,33
0,08


12
100
2,17
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 3 responden (25%) menyatakan ya dalam pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan, sebanyak 8 responden (67%) menyatakan ragu-ragu dalam pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan, dan sebanyak 0 responden (0%) menyatakan tidak tahu dalam pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,17. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh relatif dapat dilaksanakannya pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatan yang sesuai. Bukti di lapangan bahwa sebagian dari pegawai (42%) merupakan lulusan dari Diploma.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 67% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam menetapkan tujuan yang spesifik masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah peningkatan kapasitas dan kapabilitas pegawai untuk di training atau disekolahkan kembali ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi data yang didapat menunjukkan bahwa para pegawai masih ada lulusan Sekolah Menengah Atas. Sehingga dengan adanya training atau sekolah kembali ke jenjang yang lebih tinggi diharapkan para pegawai mampu bekerja secara maksimal sesuai antara pertimbangan dengan jenis pekerjaan dan jabatannya.

3)      Indikator aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian adalah sangat penting guna memberikan suatu arahan dalam bekerja untuk selalu hati-hati dan menjadikan sebagai alat evaluasi demi perbaikan terus menerus. Ini akan menimbulkan suatu komunikasi yang baik antara aspek-aspek yang dinilai dengan sasaran yang ingin dicapai sehingga tercipta keterpaduan penilaian. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.7
Tanggapan Responden tentang Aspek-aspek yang Dinilai Ada Hubungan dengan Sasaran yang Ingin Dicapai oleh Kegiatan Penilaian Dalam Manajemen Kinerja Pegawai di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
7
3
2
58
25
17
1,75
0,50
0,17


12
100
2,42
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 7 responden (58%) menyatakan ya dalam aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian, sebanyak 3 responden (25%) menyatakan ragu-ragu dalam aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian, dan sebanyak 2 responden (17%) menyatakan tidak tahu dalam aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya sangat baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,42. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi sangat baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian. Sesuai penelitian di lapangan, aspek-aspek yang dinilai adalah meliputi kecakapan, kapabilitas, kependidikan, serta mental-spiritual para pegawai dalam hubungan yang sesuai dengan sasaran pokok RSU dr. Slamet Garut.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 25% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam aspek-aspek yang dinilai ada hubungan dengan sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah konsistensi penilaian aspek-aspeknya. Sehingga diharapkan dengan adanya aspek-aspek yang dinilai menjadikan para pegawai mampu mencapai sasaran yang ingin dicapai oleh kegiatan penilaian itu sendiri.

4)      Indikator standar penilaian dan sasaran hasil penilaian yang realistis
Dalam hal manajemen kinerja pegawai, maka standar penilaian dan sasaran hasil penilaian yang realistis adalah sangat penting guna memberikan evaluasi dalam proses kinerja pegawai. Sehingga hasil evaluasi ini akan memberikan hasil penilaian yang realistis untuk perbaikan secara terus menerus di masa-masa yang akan datang. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai :

Tabel 4.8
Tanggapan Responden tentang Standar  Penilaian dan Sasaran Hasil Penilaian yang Realistis Dalam Manajemen Kinerja Pegawai
di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
10
2
0
83
17
0
2,50
0,33
0,00


12
100
2,83
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 10 responden (83%) menyatakan ya dalam standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis, sebanyak 2 responden (17%) menyatakan ragu-ragu dalam standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis, dan sebanyak 0 responden (0%) menyatakan tidak tahu dalam standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis dalam manajemen kinerja pegawai cenderung nilainya sangat baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,83. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi sangat baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis.
Bentuk konkret di lapangan adalah adanya program kerja sebagai sasaran pokok RSU dr. Slamet Garut yakni meliputi :
a)       Adanya peningkatan rujukan rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas ke rumah sakit, yakni sebelum penelitian dilakukan ada 95 customer yang rawat inap dan rawat jalan, dan setelah penelitian menjadi 120 customer yang rawat inap dan rawat jalan;
b)       Adanya peningkatan wilayah cakupan pelayanan ke rumah sakit dari 18 Kecamatan menjadi 37 kecamatan di Kabupaten Garut;
c)       Adanya penurunan keluhan dari masyarakat berupa keluhan lambatnya pelayanan dan adanya peningkatan kepuasan pelanggan;
d)      Adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan petugas;
e)       Adanya peningkatan kepuasan bekerja para petugas.

Sementara standar penilaian mengacu kepada Keputusan Menteri Pendayagunaan Paratur Negara Nomor : KEP/25/M.PAN/2/2004 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasaan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah yang meliputi :
1.      Kesederhanaan
2.      Kejelasan dan kepastian, dalam arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai:
-          Prosedur / tata cara pelayanan
-          Persyaratan pelayanan, baik teknis maupun administratif
-          Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan.
-          Rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya
-          Jadwal waktu, penjelasan pelayanan
-          Hak dan kewajiban baik dari pemberi maupun penerima pelayanan berdasarkan bukti-bukti penerimaan permohonan / kelengkapannya, sebagai alat untuk pemrosesan pelayanan.
-          Pejabat yang menerima keluhan masyarakat
3.      Keamanan
4.      Keterbukaan
5.      Efisiensi
6.      Ekonomis dalam arti pengenaan biaya pelayanan harus ditetapkan secara bijak
7.      Keadilan yang merata
8.      Ketepatan waktu
Di lihat dari standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis tersebut, tentunya belum dapat tercapai seluruhnya, apalagi  masih ada sekitar 17% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti dalam menetapkan standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah diberikan pembinaan oleh pimpinan kepada pegawai dalam hal adanya standar penilaian sebagai evaluasi dalam pencapaian sasaran. Sehingga diharapkan para pegawai mampu melaksanakan standar penilaian  dan sasaran hasil penilaian yang realistis.

4.2  Pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN)  di RSU dr. Slamet Garut
Pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materil melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Dimana dalam pelayanan harus memperhatikan standar pelayanan yang ada dalam rangka memberikan suatu pelayanan yang terbaik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam memberikan  pelayanan kepada Keluarga Miskin (GAKIN), maka disesuaikan dengan peraturan Mentri Kesehatan Repulik Indonesia Nomor 125/MENKES/SK/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat tahun 2008 bahwa ketentuan umum dalam melaksanakan program ini antara lain:
1.      Peserta jaminan kesehatan adalah setiap orang miskin dan tidak mampu yang terdaftar dan memiliki kartu dan berhak mendapat pelayanan kesehatan.
2.      Setiap peserta JAMKESMAS mempunyai hak mendapat pelayanan kesehatan dasar meliputi pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap, serta pelayanan kesehatan rujukan rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan dan pelayanan gaat darurat.
3.      Pelayanan obat di puskesmas beserta jaringannya dan di rumah sakit
4.Peserta tidak boleh di kenakan iuran biaya dengan alasan apapun.

Pelayanan akan berjalan efektif apabila memiliki tiga komponen utama yakni faktor aturan, faktor kemampuan-keterampilan, dan faktor sarana pelayanan. Dimana ketiga komponen ini satu sama lain saling berhubungan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga dengan demikian akan terjadi suatu pelayanan yang optimal yang dilakukan terhadap Keluarga Miskin (GAKIN).
Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan pelayanann Keluarga Miskin (GAKIN) di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Slamet Garut, berikut penulis paparkan berdasarkan hasil wawancara dan penyebaran angket yang penulis lakukan kepada responden, di bawah ini :
1.      Dimensi Aturan
1)      Indikator mempunyai kewenangan dengan aturan yang ada
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka mempunyai kewenangan dengan aturan yang ada adalah sangat penting guna memberikan kepastian akan kewenangan yang dijalankan oleh organisasi dengan memiliki dasar pijakan sebagai payung hukum. Sehingga kewenangan yang dimiliki oleh Bagian Gakin meerupakan hasil pengimplementasian dari peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :
Tabel 4.9
Tanggapan Responden tentang Pegawai Mempunyai Kewenangan untuk Mengambil Keptususan Dalam Pelayanan Keluarga Miskin di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
F
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
25
12
3
63
30
8
1,88
0,60
0,08


40
100
2,55
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 25 responden (63%) menyatakan ya dalam hal pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan, sebanyak 12 responden (30%) menyatakan ragu-ragu dalam hal pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan, dan sebanyak 3 responden (8%) menyatakan tidak tahu dalam hal pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya sangat baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,55. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi sangat baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya kewenangan untuk mengambil keputusan yang dipunyai sesuai dengan aturan yang ada selama tidak bertentangan dengan aturan yang ada. Kewenangan yang dimiliki oleh Bagian Gakin adalah berupa Keputusan Mentri Kesehatan Repulik Indonesia Nomor 125/MENKES/SK/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat tahun 2008.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 30% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti tentang pegawai mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan usaha keras terus mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam peraturan, sehingga lambat laun dapat dilaksanakan secara penuh dan konsisten. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menjalankan kewenangan yang dimiliki dengan aturan yang ada.

2)      Indikator memiliki pandangan jauh ke depan
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka memiliki pandangan jauh ke depan adalah sangat penting guna memberikan arah pandangan sebuah organisasi maupun para pegawainya dalam melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam pandangan itu. Sehingga hal ini mampu memberikan suatu gambaran di dalam hati dan pikiran pegawai untuk mampu mengejewantahkan pandangan jauh ke depan tersebut. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang pegawai memiliki kesinambungan dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :
Tabel 4.10
Tanggapan Responden tentang Pegawai Memiliki Kesinambungan Dalam Pelayanan Keluarga Miskin di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
2
21
17
5
53
43
0,15
1,05
0,43


40
100
1,63
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner
Berdasarkan tabel di atas tentang memiliki kesinambungan, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 2 responden (5%) menyatakan ya dalam hal memiliki pandangan jauh kedepan, sebanyak 21 responden (43%) menyatakan ragu-ragu dalam hal pegawai mempunyai pandangan jauh kedepan, dan sebanyak 17 responden (43%) menyatakan tidak tahu dalam hal pegawai mempunyai kesinambungan untuk memuskan customer.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa memiliki kesinambungan dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 1,63. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh relatif dapat dilaksanakannya pandangan jauh ke depan. Pandangan jauh ke depan yang dimiliki oleh BP RSU dr. Slamet Garut tertuang dalam visi dan misinya, yakni : “Terwujudnya Rumah Sakit yang mandiri, eksis, proaktif dan sensitif terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan sejahtera untuk tercapainya Garut Sehat 2010”.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 53% responden yang menjawab ragu-ragu dan 43% responden yang menjawab tidak tahu, ini berarti memiliki kesinambungan dalam pemuasan customer yang ada masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan penerapan pemahaman kepada para pegawai akan sebuah pandangan jauh ke depan yang teertuang dalam visi dan misi RSU dr. Slamet Garut. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menjalankan kesinambungan kepuasan tersebut.
3)      Indikator memahami maksud dan tujuan
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka pegawai memahami maksud dan tujuan adalah sangat penting guna memberikan pemahaman bagi pegawai akan segala rutinitas pekerjaannya. Sehingga dengan memahami maksud dan tujuan dari pekerjaan yang dilakukan pegawai akan mampu menjalankan tugasnya secara baik. Maksud dan tujuan dalam hal ini yakni memenuhi harapan customer. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang memahami maksud dan tujuan dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :
Tabel 4.11
Tanggapan Responden tentang Pegawai Memenuhi Harapan  Dalam Pelayanan Keluarga Miskin di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
P
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
5
16
19
13
40
48
0,38
0,80
0,48


40
100
1,65
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang pegawai memenuhi harapan customer, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 5 responden (13%) menyatakan ya dalam hal pegawai memenuhi harapan, sebanyak 16 responden (40%) menyatakan ragu-ragu dalam hal pegawai memenuhi harapan, dan sebanyak 19 responden (48%) menyatakan tidak tahu dalam hal pegawai memenuhi harapan.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pegawai memenuhi harapan dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya kurang baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 1,65. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi kurang baik, hal ini disebabkan oleh dapat dilaksanakannya akan pemahaman maksud dan tujuan. Dalam hal ini, di BP RSU dr. Slamet Garut memiliki maksud dan tujuan berupa Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit, Agar 90% kegiatan operasional rumah sakit dapat dibiayai dari pendapatan sendiri, Meningkatkan akuntabilitas publik terhadap kemampuan pengelolaan rumah sakit, Petugas melaksanakan tugasnya secara profesional, aman dan nyaman..
Indikator memahami maksud dan tujuan berada pada posisi kurang baik, ini harus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan usaha keras terus mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas pokok dan fungsi tersebut, sehingga lambat laun dapat dilaksanakan secara penuh dan konsisten. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menjalankan dan memahami akan maksud dan tujuan dalam hal memenuhi harapan.

4)      Indikator harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja adalah sangat penting guna memberikan ketepatan dalam pelaksanaan pelayanan yang dilakukan oleh pegawai. Sehingga disiplin pegawai dalam hal waktu maupun kerja, ini akan mampu menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan yang akan meningkatkan produktivitas kerja. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :
Tabel 4.12
Tanggapan Responden tentang Harus Taat/ Disiplin Baik Waktu
Maupun Kerja Dalam Pelayanan Keluarga Miskin
di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
13
19
8
33
48
20
0,98
0,95
0,20


40
100
2,13
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja pegawai, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 13 responden (33%) menyatakan ya dalam hal pegawai harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja, sebanyak 19 responden (48%) menyatakan ragu-ragu dalam hal pegawai harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja, dan sebanyak 8 responden (20%) menyatakan tidak tahu dalam hal pegawai harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pegawai harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,13. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh pegawai taat/ disiplin pada waktu kerja.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 48% responden yang menjawab ragu-ragu dan sekitar 20% responden yang menjawab tidak tahu, ini berarti pegawai harus taat/ disiplin baik waktu maupun kerja masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan memberikan teladan dari pimpinan, serta bagaimnana menumbuhkan sikap disiplin di dalam jiwa pegawai bahwa pekerjaannya merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan penuh disiplin. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menjalankan taat/ disiplin baik waktu maupun kerjanya.

2.      Dimensi Kemampuan Keterampilan
1)      Indikator dapat melakukan tugas yang sesuai
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka dapat melakukan tugas yang sesuai adalah sangat penting guna memberikan keharmonisan pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Sehingga kesesuaian tugas yang diemban oleh pegawai dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan prinsip the right job the right man atau mampu menempatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya sesuai dengan penjabaran kerja yang telah diberikan kepada pegawai. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang dapat melakukan tugas yang sesuai dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :
Tabel 4.13
Tanggapan Responden tentang Dapat Melakukan Tugas yang Sesuai  Dalam Pelayanan Keluarga Miskin di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
3
5
32
8
13
80
0,15
0,13
2,40


40
100
1,27
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang dapat melakukan tugas yang sesuai, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 3 responden (8%) menyatakan ya dalam hal dapat melakukan tugas yang sesuai, sebanyak 5 responden (13%) menyatakan ragu-ragu dalam hal dapat melakukan tugas yang sesuai, dan sebanyak 32 responden (80%) menyatakan tidak tahu dalam hal dapat melakukan tugas yang sesuai.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa melakukan tugas yang sesuai dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya kurang baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 1,27. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi kurang baik, hal ini disebabkan oleh masih ada beberapa hal yang tidak dilaksanakannya tugas yang sesuai. Pembagian tugas di Bagian GAKIN belum sesuai dengan job deskription atau penempatan pembagian tugas masing-masing sesuai kemampuan yang dimiliki pegawai. Dimana pegawai kurang mampu melaksanakannya dengan baik.
Mengingat, masih ada sekitar 80% responden yang menjawab tidak tahu, ini berarti melakukan tugas yang sesuai tidak berjalan secara layak serta harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan peningkatan kualitas pelayanan melalui sebuah pelatihan, pembinaan atau pun ditingkatkan pengatahuan dan wawasannya ke sekolah yang lebih tinggi lagi. Sehingga diharapkan para pegawai mampu melakukan tugas yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya.

2)      Indikator mempunyai pengetahuan
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka mempunyai pengetahuan yang lebih adalah sangat penting guna memberikan penguasaan keahlian secara pengetahuan dari para pegawai. Sehingga dengan memiliki pengetahuan yang luas diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi akan lebih cepat ditangani. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang mempunyai pengetahuan yang luas dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :

Tabel 4.14
Tanggapan Responden tentang Mempunyai Pengetahuan Dalam Pelayanan Keluarga Miskin di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
13
15
12
33
38
30
0,98
0,75
0,30


40
100
2,03
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner
Berdasarkan tabel di atas tentang mempunyai pengetahuan, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 13 responden (33%) menyatakan ya dalam hal mempunyai pengetahuan yang lebih, sebanyak 15 responden (38%) menyatakan ragu-ragu dalam hal mempunyai pengetahuan yang lebih, dan sebanyak 12 responden (30%) menyatakan tidak tahu dalam hal mempunyai pengetahuan yang lebih.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa mempunyai pengetahuan yang lebih dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,03. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh dapat mempunyai pengetahuan yang lebih. Bentuk dari pengetahuan yang lebih dalam dimiliki oleh pegawai berupa penguasaan fasilitas dalam melakukan pelayanan, sehingga nampak pegawai yang memiliki  pengetahuan terlihat dari caranya melayani yang baik sebagai pengejewantahan dari pengetahuannya.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 38% responden yang menjawab ragu-ragu dan 30% responden yang menjawab tidak tahu, ini berarti pegawai yang mempunyai pengetahuan lebih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan pemberian pelatihan-pelatihan serta penambahan wawasan dan pengetahuan pegawai melalui pendidikan atau disekolahkan kembali ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga diharapkan para pegawai mampu menerapkan dan memiliki pengetahuan yang lebih tentang pelayanan.
3.      Dimensi Sarana Pelayanan
1)      Indikator peralatan kerja yang memadai dan menunjang terhadap pelayanan
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka peralatan kerja yang memadai dan menunjang terhadap pelayanan adalah sangat penting guna memberikan kelancaran serta kecepatan dalam hasil yang akan dicapai. Sehingga peralatan kerja yang memadai mampu menunjang proses pelayanan yang sedang dilakukan. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :

Tabel 4.15
Tanggapan Responden tentang Peralatan Kerja yang Memadai dan Menunjang Dalam Pelayanan Keluarga Miskin
di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
f
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
8
23
9
20
58
23
0,60
1,15
0,23


40
100
1,98
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 8 responden (20%) menyatakan ya dalam hal peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan, sebanyak 23 responden (58%) menyatakan ragu-ragu dalam hal peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan, dan sebanyak 9 responden (23%) menyatakan tidak tahu dalam hal peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 1,98. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh dimilikinya peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan. Bentuk dari peralatan yang memadai dan menunjang adalah berupa komputer yang dimiliki ada dua unit, ketersediaan ATK, serta peralatan kerja pendukung lainnya seperti adanya sound system dalam pemanggilan terhadap pelayanan kepada customer.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 58% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti peralatan kerja yang memadai dan menunjang dalam pelayanan yang ada masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan pengadaan kembali peralatan yang relevan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah sejauhmana pegawai mampu mengoptimalkan peralatan tersebut digunakan dengan baik. Sehingga diharapkan peralatan kerja yang memadai akan dapat menunjang dalam pelayanan.

2)      Indikator fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya
Dalam hal pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut, maka fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya adalah sangat penting guna memberikan dukungan terhadap proses pekerjaan pegawai. Sehingga fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya dapat menambah kecepatan serta dukungan terhadap hasil kerja yang akan dicapai sebagai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah tanggapan responden tentang fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) :

Tabel 4.16
Tanggapan Responden tentang Fasilitas yang Diberikan Sesuai dengan Fungsinya Dalam Pelayanan Keluarga Miskin
di Bagian GAKIN RSUD dr. Slamet Garut

No
Alternatif Jawaban
b
F
p
Skor
1
2
3
Ya
Ragu-ragu
Tidak tahu
3
2
1
13
17
10
33
43
25
0,98
0,85
0,25


40
100
2,08
Sumber: Hasil pengolahan kuesioner

Berdasarkan tabel di atas tentang fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya, maka dapat diketahui bahwa sebanyak 13 responden (33%) menyatakan ya dalam hal fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya, sebanyak 17 responden (43%) menyatakan ragu-ragu dalam hal fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya, dan sebanyak 10 responden (25%) menyatakan tidak tahu dalam hal fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya.
Tanggapan responden dari uraian di atas, didapat kesimpulan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya dalam pelayanan Keluarga Miskin (GAKIN) cenderung nilainya baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengolahan data skor total sebesar 2,08. Nilai skor ini menempati predikat kualifikasi baik, hal ini disebabkan oleh fasilitas yang diberikan berfungsi sesuai dengan fungsinya.
Walaupun begitu, masih ada sekitar 43% responden yang menjawab ragu-ragu, ini berarti mempunyai fasilitas yang diberikan sesuai dengan fungsinya yang ada masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan melalui beberapa hal, diantaranya adalah dengan perawatan fasilitas yang kontinyu untuk menjamin fasilitas yang ada tetap baik, serta tidak kalah pentingnya adalah perbaikan fasilitas-fasilitas yang ada mengingat hasil pengamatan masih ada fasilitas-fasilitas yang tidak dirawat serta perlu diperbaiki. Sehingga diharapkan fasilitas yang diberikan dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya.

4.3  Hambatan-hambatan yang Dihadapi Dalam Pelaksanaan Manajemen Kinerja Pegawai Dan Pelayanan  Keluarga Miskin di RSU dr. Slamet Garut
1.      Kurangnya peralatan kerja
Dalam pelayanan yang diperoleh customer untuk mendapatkan kartu JAMKESMAS, dalam satu hari hanya memiliki kuota untuk lima customer. Hal ini dikarenakan pertimbangan bahwa proses untuk mendapatkan layanan kartu JAMKESMAS sangat lama dan rumit. Sementara di sisi lain, kebutuhan customer untuk mendapatkan kartu JAMKESMAS begitu tinggi. Dengan adanya hal ini, disebabkan oleh ketersediaan peralatan kerja yang kurang memadai dan tidak mendukung.
Hal ini dapat dilihat dengan adanya dua unit komputer, padahal idealnya di Bagian GAKIN harus memiliki empat unit mengingat adanya rata-rata perhari 120 customer yang harus dilayani, dimana secara administartif akan lebih cepat bila didukung dengan unit komputer yang cukup. Selain itu ketersediaan alat tulis kantor (ATK) harus secara konstan ada, mengingat kebutuhan hal ini sangat pokok, sementara dari hasil pengamatan suka terlambatnya distribusi pengadaan ATK di Bagian GAKIN.

2.      Kurangnya tenaga kerja di Bagian GAKIN
Dari hasil penelitian bersumber dari bagian Kepegawaian RSUD dr. Slamet Garut, bahwa pegawai di Bagian GAKIN berjumlah 12 (dua belas) pegawai. Tentu hal ini tidak sebanding dengan banyaknya pasien yang harus dilayani setiap hari rata-rata 35 customer. Apalagi dalam proses pendataan dalam pendaftaran mendapatkan kartu JAMKESMAS hanya dapat mengolah data administrasi customer sebanyak 5 customer
Belum pegawai tersebut terbagi ke dalam bidang poli, pengambilan obat, dan bidang administrasi. Sehingga kurangnya tenaga kerja di Bagian GAKIN menyebabkan lambatnya pelayanan yang diberikan.

3.      Masih adanya customer yang mendadak mendaftar tanpa dokumen dan prosedur yang tepat
Pada dasarnya untuk mendapatkan pelayanan GAKIN khususnya dalam hal mendapatkan pelayanan JAMKESMAS harus mendapatkan surat-surat atau dokumen-dokumen yang komplit dan jelas seperti adanya surat keterangan tidak mampu dari desa yang diperkuat dengan keterangan dari RT dan RW, serta surat keterangan dari kecamatan serta surat rekomendasi dari Puskesmas setempat.
Namun masih ada sebagian customer yang tidak lengkap membawa dokumen serta prosedur yang tidak dipahami, namun customer tersebut justru sedang sangat membutuhkan layanan JAMKESMAS untuk segera ditangani secara medis karena sakit.
Berdasarkan hambatan-hambatan tersebut, tentunya harus dicarikan solusi sehingga pemecahan masalah dapat teratasi. Untuk itu, berikut cara penanggulangan hambatan-hambatan yang ada dalam pelaksanaan manajemen kinerja pegawai dan pelayanan  Keluarga Miskin (GAKIN) di RSU dr. Slamet Garut :
1.      Karena masalah distribusi dan pengadaan komputer serta alat tulis kantor (ATK) sangat fundamental bagi keberlangsungan pelayanan di Bagian GAKIN terhadap customer, maka hal ini harus mendapatkan perhatian lebih denga berusaha mengadakan peralatan-peralatan yang lebih memadai khususnya pengadaan tambahan 2 unit komputer lagi. Sementara untuk alat tulis kantor hanya tinggal pembenahan dalam masalah distribusi, sehingga lebih diprioritaskan untuk alokasi ATK di Bagian GAKIN.
2.      Masalah  kurangnya tenaga kerja di Bagian GAKIN, hal ini hanya sebatas bagaimana pihak BP RSU dr. Slamet Garut dapat menambahnya dengan cara merekrut orang-orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang tepat sesuai dengan beban kerja yang ada. Sementara untuk langkah awal adalah bagaimana mampu mengoptimalkan pegawai yang ada untuk bekerja secara berkualitas walaupun masih tidak memadainya kuantitas pegawai yang ada. Secara kuantitas, saat ini ada 12 pegawai di Bagian GAKIN, maka yang dibutuhkan minimal 15 orang mengingat adanya rata-rata 120 customer yang mesti dilayani.
3.      Sementara masih adanya customer yang mendadak mendaftar tanpa dokumen dan prosedur yang tepat, ini harus dilakukan sosialisasi atau sebentuk informasi yang baik terhadap masyarakat umum dalam hal persyaratan untuk mendapatkan jaminan JAMKESMAS atau pun prosedur yang harus ditempuh dalam memperoleh JAMKESMAS.
Dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di BP RSU dr. Slamet Garut, maka ini pada dasarnya bukan masalah pegawai saja, tetapai harus dihadapai dan dilaksanakan secara konsisten bersama seluruh civitas BP RSU dr. Slamet Garut. Dengan cara sinergisitas yang ada, maka masalah yang ada akan bisa ditanggulangi secara efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar