Minggu, 01 Juli 2012

BAB III

BAB III
LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN

3.1  Keadaan Lokasi Penelitian
1.      Gambaran Umum Objek Penelitian
Berdasarkan informasi yang diterima dari Bagian Arsip dan Dokumentasi BP RSU dr. Slamet Garut adalah satu-satunya Rumah Sakit Pemerintah Daerah Kabupaten Garut. Di dirikan pada zaman Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1922, saat ini kondisi bangunan 50% masih bangunan peninggalan Belanda dan 50% lagi telah direhab oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Garut.
Luas tanah yang di miliki 38.000 M2, terletak sekitar Kota Garut dan dapat di capai dengan mudah oleh semua kendaraan. Rumah Sakit Umum lainnya yang terdekat berjarak 60 Km yang berada pada kabupaten lain. Peralatan kesehatan yang di miliki umumnya masih konvensional walaupun secara bertahap pengadaan Alat – alat canggih mulai di adakan antara lain USG, Encloscopy, Audiometri, Triadmill dan lain sebagainya.
Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut potensial untuk di kembangkan, karena Kabupaten Garut letaknya sebagai penyangga Ibukota Propinsi dan dalam wilayah pengembangan Bandung Raya. Di samping itu juga lalu lintas antara Garut dan Bandung semakin di permudah dan di perpendek waktu tempuhnya di karenakan jalannya lebar dan hotmix, juga akan di bangun jalan tol antara Cileunyi – Nagreg (Renstra Tahun 2007, Bappeda Kabupaten Garut).
  1. Jenis Pelayanan
Rumah Sakit Umum dr. Slamet mempunyai kapasitas tempat tidur sebanyak 272,dengan distribusi spesialisasi sebagai berikut
a.       Unit Penyakit Dalam                             :  57 Tempat Tidur
b.      Unit Bedah                                            :  52 Tempat Tidur
c.       Kesehatan Anak                                     :  69 Tempat Tidur
d.      Unit Kebidanan dan Kandungan           :  42 Tempat Tidur
e.       Unit Rawat Umum                                :  52 Tempat Tidur
Dalam melaksanakan tugas pokok dan Fungsinya, RSU dr. Slamet Garut melaksanakan 2 (dua) Jenis Pelayanan. Adapun jenis Pelayanan yang ada pada RSU dr. Slamrt Kabupaten Garut terdiri dari:
a.       Pelayanan Medik
b.      Pelayanan Penunjang Medik

  1. Pelayanan Medik
Pelayanan Medik terdiri dari Pelayanan Rawat Jalan dan pelayanan rawat Inap.
 Pelayanan Rawat Jalan terdiri dari:
1)      Klinik Spesialisasi Penyakit dalam
2)      Klinik Spesialis Bedah
3)      Klinik Spesialis Kebidanan dan Kandungan
4)      Klinik Spesialis THT
5)      Klinik Spesialis Mata
6)      Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin
7)      Klinik Spesialis Syaraf
8)      Klinik Gigi dan Mulut
9)      Klinik Gizi
10)  Klinik Keluarga Berencana
11)  Klinik Tumbuh Kembang Anak
12)  Klinik Jiwa (Part time)
13)  Klinik Arthopedi
14)  Klinik Jantung
15)  Klinik Psikologi
16)  Pelayanan Medis lainnya
§  Instalasi Bedah Central
§  Instalasi Care Unit
§  Instalasi Gawat Darurat
§  Instalasi Rehabilitasi Medik
§  General Medical Chek up
Pelayanan rawat inap berdasarkan Ruangan dan Kelas Perawatan,
1)   Kelas III                               :  78 Tempat Tidur
2)   Kelas II                                :  92 Tempat Tidur
3)   Kelas I                                  :  54 Tempat Tidur
4)   Kelas Utama                        :  13 Tempat Tidur
5)   VIP (Intan Sartika)              :  35 Tempat Tidur

  1. Pelayanan Penunjang Medik
Pelayanan penunjang medik adalah sarana-sarana penunjang yang berupa alat-alat untuk mendiagnosa penyakit secara akurat, yang fungsinya sebagai pelengkap pelayanan medik. Adapun penunjang medik yang terdapat di RSU dr. Slamet adalah:
a.       Instalasi Laboratorium Listrik dan Pathologi Anatomi
b.      Instalasi Radio Diagnostik / Diagnostik Elektromedik
1)      Rontgent
2)      Ultrasonografi (USG)
3)      Elektrokardiogpi (EKG)
4)      Renograf
5)      Endoscopy
6)      Electro Encephalographi
7)      Tread mill
8)      Audiometri
c.       Instalasi Farmasi
d.      Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
e.       Instalasi Gizi
f.       Instalasi Bedah Central dengan 3 Buah kamar Operasi

  1. Permasalahan Umum Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut
Permasalahan-permasalahan berdasarkan kenyataan dan fakta empiris yang dijumpai dilapangan, yang menjadi permasalahan umum di RSU dr. Slamet Kabupaten Garut adalah:
1.      Dengan diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten Garut, maka terjadi perubahan kinerja RSU dr. Slamet Kabupaten Garut. semenjak struktur organisasi dan Tata Kerja yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2001 tanggal 22 Juni 2001, pada pelaksanaannya terdapat tumpang tindih dalam tugas pokok dan fungsinya. Hal ini diakibatkan mutasi dari lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut. banyak aparat yang tidak mempunyai keahlian di bidang manajemen maupun medis ditempatkan di RSU dr. Slamet Garut, sehingga tenaga yang sudah ahli digeser ke bidang lain, tapi dalam kegiatannya masih mengerjakan keahliannya, sebab yang menggantikannya tidak mampu mengerjakan pekerjaannya.
2.      Seringkali terjadi perilaku pegawai, baik tenaga medis ataupun non medis yang selalu membeda-bedakan status sosial pasien, sehingga dirasakan kurang bersahabat dan kurang ramah. Misalnya dalam memberikan pelayanan terhadap pasien yang dirawat di kelas III dibandingkan dengan pasien yang dirawat di VIP.
3.      Pelayanan kesehatan dirasakan oleh sebagian masyarakat masih lamban dan belum optimal. Misalnya dalam waktu jam periksa, harus jam 08.00 WIB tetapi masih ada yang datang terlambat jam 09.00 WIB.
4.      Perilaku petugas belum berorientasi pada keinginan pasien untuk mendapatkan pelayanan yang baik dalam pelayanan non teknis seperti keramahan, hal ini terlihat banyaknya keluhan pengguna jasa rumah sakit.
5.      Pelayanan yang diberikan setiap 1 hari hanya mampu melayani 5 orang, ini dikarenakan waktu yang memang sangat tidak mencukupi sedangkan proses menjalankan program ini memakan waktu yang memang cukup lama, dengan dalih bahwa 1 orang di layanai paling cepat secara administratif memakan waktu 1 jam.
6.      Masyarakat miskin banyak yang mendaftar dadakan sehingga mengahambat dalam menjalankan proses pelayanan kepada yang mematuhi secara administratif.
Kondisi lain yang mempengaruhi permasalahan umum dilihat dari sisi kondisi riil RSU dr. Slamet berdasarkan informasi yang diperoleh dari BP RSU dr. Slamet Garut adalah:
a.       Hampir 50% tenaga paramedis dan non medis belum diangkat sebagai PNS, sehingga tingkat kesejahteraannya masih rendah.
b.      Meskipun pendapatan rumah sakit meningkat tetapi anggaran biaya operasional dan pemeliharaan apalagi biaya investasi belum memadai karena hampir 40% dianggarkan bagi honor dan kesejahteraan pegawai.
c.       Pemasaran sosial rumah sakit masih lemah, ini terbukti hampir 70-80% penderita yang datang berobat hanya pada radius dari 10 KM
d.      Jumlah tempat tidur kelas III dan II + 62,2% sedangkan jumlah tempat tidur untuk kelas I / utama / VIP + 37,4%, sehingga subsidi silang belum dapat terpenuhi.
e.       Tarif yang berlaku jauh dibawah unit cost.
f.       Ruangan perawatan perinatologi dan ruang bersalin tidak memadai.
g.      Jumlah perawat + 60% masih berpendidikan dibawah D3.
h.      Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit kualitasnya belum baik.
i.        Instalasi Gawat Darurat yang ada, dilihat dari segi tempat maupun peralatan belum memadai.
j.        Peralatan kedokteran yang muktahir / canggih belum memadai.
k.      Fasilitas khusus untuk pelayanan Askes Terpadu kurang memadai.
l.        PNS semakin berkurang, penambahan PNS tidak sebanding dengan yang pensiun, sementara pemerintah menetapkan zero growth penambahan PNS.
m.    Meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang baik karena tingkat pendidikan dan penghasilan yang baik semakin banyak.
n.      Subsidi Pemerintah Pusat semakin kecil bahkan beberapa proyek / program sudah tidak ada.
o.      Adanya Rumah Sakit pesaing di luar Rumah Sakit Kabupaten Garut yang jaraknya lebih dekat, dengan transportasi yang lebih baik.
p.      Angka kematian ibu dan bayi di atas rata-rata AKB dan AKI regional maupun nasional.
q.      Kunjungan pasien dari keluarga miskin (Gakin) semakin meningkat.

2.      Kebijakan Rumah Sakit Umum dr. Slamet Kabupaten Garut
Di Era Otonomi Daerah yang serba keterbatasan sumber daya yang tersedia maka rumah sakit harus dapat mandiri agar tetap eksis keberadaannya dengan senantiasa berperilaku aktif dan sensitif terhadap segala kebutuhan dan keluhan masyarakat akan kesehatan, guna menuju Garut Sehat Tahun 2010 dan terwujudnya Garut Pangirutan yang Tata Tentram Kerta Raharja menuju Ridho Allah, Visi Rumah Sakit dinyatakan sebagai berikut berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi BP RSU dr. Slamet Garut, yakni :
a.      Visi
“Terwujudnya Rumah Sakit yang mandiri, eksis, proaktif dan sensitif terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan sejahtera untuk tercapainya Garut Sehat 2010”.

b.   Misi
Untuk mencapai visi tersebut sekaligus mendukung terwujudnya Visi Dinas Kesehatan dan Visi Pemerintah Kabupaten Garut maka Badan Pengelola Rumah Sakit Umum dr. Slamet Kabupaten Garut mempunyai misi sebagai berikut:
a.       Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang paripurna, bermutu terjangkau dengan menjunjung tinggi kode etik serta senantiasa memperhatikan fungsi sosial;
b.      Menyelenggarakan manajemen keuangan rumah sakit yang tertib dan profesional;
c.       Menyelenggarakan peningkatan mutu dan kesejahteraan Sumber Daya Manusia.

3.      Arah Kebijakan
a.      Tujuan
Untuk mencapai visi dan melaksanakan misi tersebut di atas, maka dalam jangka pendek (2005-2010) Badan Pengelola Rumah Sakit Umur dr. Slamet Kabupaten Garut mempunyai tujuan sebagai berikut:
a)      Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit;
b)      Agar 90% kegiatan operasional rumah sakit dapat dibiayai dari pendapatan sendiri;
c)      Meningkatkan akuntabilitas publik terhadap kemampuan pengelolaan rumah sakit;
d)     Petugas melaksanakan tugasnya secara profesional, aman dan nyaman.

b.      Sasaran
Yang menjadi sasaran dari tujuan tersebut di atas adalah:
a)   Adanya peningkatan rujukan rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas ke rumah sakit;
b)       Adanya peningkatan wilayah cakupan pelayanan ke rumah sakit dari 18 Kecamatan menjadi 37 kecamatan di Kabupaten Garut;
c)       Adanya penurunan keluhan dari masyarakat dan adanya peningkatan kepuasan pelangga;
d)      Adanya peningkatan penerimaan fungsional rumah sakit;
e)       Terciptanya efisiensi penggunaan dana rumah sakit;
f)        Tercapainya target penerimaan dan disiplin anggaran;
g)       Adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan petugas;
h)       Adanya peningkatan kepuasan bekerja para petugas.

4.      Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi
a.      Kedudukan
Badan pengelola unsur penunjang Pemerintahan Daerah di pengelolaan pelayanan kesehatan; Badan Pengelola merupakan sistem dari sistem kesehatan daerah; Badan Pengelola dipimpin seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab Bupati melalui Sekretaris Daerah.

b.      Tugas Pokok
Badan pengelola rumah sakit dr. Slamet Garut mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
1)      Membantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan pelayanan kesehatan lanjutan;
2)      Merumuskan kebijakan sistem kesehatan daerah dalam bidangnya bersama-sama Dinas Kesehatan Kabupaten;
3)      Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilakukan secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.
4)      Melaksanakan pelayanan bermutu sesuai standar pelayanan rumah sakit.

c.       Fungsi
Untuk menyelenggarakan tugas pokok, fungsi Badan Pengelola yaitu:
a.       Penyelenggaraan pelayanan medis;
b.      Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis;
c.       Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan;
d.      Penyelenggaraan pelayanan rujukan;
e.       Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan;
f.       Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan;
g.      Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

d.      Organisasi
Unsur-unsur Organisasi Badan Pengelola terdiri atas:
a.       Pimpinan adalah Kepala Badan Pengelola;
b.      Pembantu pimpinan adalah Sekretaris;
c.       Pelaksana adalah bidang, instalasi dan kelompok jabatan fungsional.

e.       Susunan Organisasi
(1)    Organisasi Badan Pengelola terdiri atas:
a.       Kepala
b.      Sekretariat membawahkan:
a)      Sub Bagian Umum dan Perlengkapan;
b)      Sub Bagian Kepegawaian dan Diklat;
c)      Sub Bagian Informasi dan Pelayanan Pelanggan;
d)     Sub Bagian Pemasaran Sosial;
e)      Sub Bagian Perencanaan dan Rekam Medik.
c.       Bidang Pelayanan Medis membawahkan:
a)      Sub Bidang Pelayanan Medis I;
b)      Sub Bidang Pelayanan Medis II;
c)      Sub Bidang Pelayanan Medis III.
d.      Bidang Pelayanan Penunjang Medis membawahkan:
a)      Sub Bidang Pelayanan Penunjang Medis I;
b)      Sub Bidang Pelayanan Penunjang Medis II;
c)      Sub Bidang Pelayanan Penunjang Medis III;
e.       Bidang Keperawatan membawahkan:
a)      Sub Bidang Keperawatan I;
b)      Sub Bidang Keperawatan II;
c)      Sub Bidang Keperawatan III;
f.       Bidang Keuangan membawahkan:
a)      Sub Bidang Penyusunan Anggaran;
b)      Sub Bidang Perbendaharaan;
c)      Sub Bidang Akuntansi dan Sistem Komputerisasi Keuangan;
d)     Sub Bidang Mobilisasi Dana dan Kemitraan;
3.2  Keadaan Objek Penelitian
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa penelitian ini di RSU dr. Slamet Garut. Adapun objek sasaran yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah pegawai RSU dr. Slamet Garut yang berhubungan dengan pelayanan terhadap keluarga miskin dengan jumlah keseluruhan 12 orang sebagai responden I, dan 40 orang pasien sebagai responden II dengan menggunakan teknik pengambilan sampel accidental (pengambilan sampel ketika pasien berobat ke RSU dr. Slamet Garut).
Selanjutnya, penulis kemukakan keadaan responden I berdasarkan tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan golongan yang diuraikan sebagai berikut:
1.      Keadaan Responden I Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.1
Keadaan Responden I Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No.
Pendidikan
fi
p
1.
Sarjana
3
25
2.
Diploma
5
42
3.
SLTA
4
33
åfi
12
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa tingkat Pendidikan responden I pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 3 responden (25%), tingkat pendidikan Diploma sebanyak 5 responden (42%), dan tingkat pendidikan SLTA sebanyak 4 responden (33%).
Dengan demikian, data karakteristik responden di atas menunjukkan bahwa responden berpendidikan cukup tinggi sehingga dikategorikan responden mampu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Beragamnya latar belakang pendidikan responden ini akan mampu mengukur keandalan angket yang diajukan.

2.      Keadaan Responden I Berdasarkan Umur
Tabel 3.2
Keadaan Responden I Berdasarkan Umur

No.
Umur
fi
p
1.
26 – 30 Tahun
3
25
2.
31 – 35 Tahun
3
25
3.
35 – 40 Tahun
2
17
4.
41 – 45 Tahun
2
17
5.
46 – 50 Tahun
2
17
6.
51 – 55 Tahun
0
0
7.
56 tahun lebih
0
0
åfi
12
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa usia 46 – 50 tahun sebanyak 2 responden (17%), usia 41-45 tahun sebanyak 2 responden (17%), usia 35-40 tahun sebanyak 2 responden (17%), usia 31-35 tahun sebanyak 3 responden (25%), dan usia 26-30 tahun sebanyak 3 responden (25%)
3.      Keadaan Responden I Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3.3
Keadaan Responden I Berdasarkan Jenis Kelamian

No.
Jenis Kelamin
fi
p
1.
Laki-laki
7
58
2.
Perempuan
5
42
åfi
12
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 7 responden (58%) lebih dominan dari pada perempuan sebanyak 5 responden (42%), hal ini dapat mempengaruhi situasi kerja di RSU dr. Slamet Garut.

4.      Keadaan Responden I Berdasarkan Pangkat / Golongan
Tabel 3.4
Keadaan Responden I Berdasarkan Pangkat / Golongan

No.
Golongan
fi
p
1.
Golongan IV
1
8
2.
Golongan III
4
33
3.
TKK
7
58
åfi
12
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008

Dari  tabel  di  atas  dapat dilihat bahwa mayoritas responden adalah TKK sebanyak 7 responden (58%), sedangkan golongan III sebanyak 4 responden (33%), dan untuk golongan IV  sebanyak  1  responden  (8%). Responden I dalam hal ini mampu  menjawab pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini, mengingat pengalaman dan pendidikannya cukup tinggi.
Selanjutnya, penulis kemukakan keadaan responden II berdasarkan tingkat pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin dan umur diuraikan sebagai berikut:
1.      Keadaan Responden II Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.5
Keadaan Responden II Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No.
Pendidikan
fi
p
1.
Sarjana
0
0
2.
SLTA
6
15
3.
SLTP
13
32,5
4
SD
21
52,5
åfi
40
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008

Berdasarkan tabel di atas, tingkat pendidikan responden II dengan tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 0 orang (0%), tingkat pendidikan SLTA sebanyak 6 orang (15%), tingkat pendidikan SLTP 13 orang (32,5%), dan tingkat pendidikan SD sebanyak 21 orang (52,5%).
Secara umum dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan responden II relatif rendah dengan sebanyak 52,5% tingkat pendidikan Sekolah Dasar.
2.      Keadaan Responden II Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 3.6
Keadaan Responden II Berdasarkan Pekerjaan

No.
Pekerjaan
fi
p
1.
PNS
0
0
2.
Karyawan Swasta
7
17,5
3.
Mahasiswa
1
2,5
4.
Wiraswasta
14
35
5.
Ibu Rumah Tangga
18
45
åfi
40
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui keadaan responden II berdasarkan pekerjaan, yaitu responden II yang bekerja sebagai PNS sebanyak 0 orang (0%), bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 7 orang (17,5%), bekerja sebagai mahasiswa sebanyak 1 orang (2,5%), bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 14 orang (35%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 18 orang (45%).
Dari uraian di atas secara mayoritas didasarkan pada tabel 3.6, maka kebanyakan responden memiliki jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.




3.      Keadaan Responden II Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3.7
Keadaan Responden II Berdasarkan Jenis Kelamin

No.
Jenis Kelamin
fi
P
1.
Laki-laki
17
42,5
2.
Perempuan
23
57,5
åfi
40
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui keadaan responden II berdasarkan jenis kelamin, yaitu responden II dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak dari pada responden laki-laki yaitu 23 orang (57,5%) sedangkan responden laki-laki sebanyak 17 (42,5%).
4.      Keadaan Responden II Berdasarkan Umur
Tabel 3.8
Keadaan Responden II Berdasarkan Umur

No.
Umur
fi
P
1.
15 – 20 Tahun
3
7,5
2.
21 – 25 Tahun
2
5
3.
26 – 30 Tahun
8
20
4.
31 – 35 Tahun
9
22,5
5.
36 – 40 Tahun
17
42,5
6.
41 – 45 Tahun
1
2,5
7.
46 – 50 Tahun
0
0
8.
50 Tahun ke atas
0
0
åfi
40
100
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui keadaan responden II berdasarkan umur antara 15-20 tahun sebanyak 3 orang (7,5%), yang memiliki umur antara 21-25 tahun sebanyak 2 orang (5%), yang memiliki umur antara 26-30 tahun sebanyak 8 orang (20%) yang memiliki umur antara 31-35 tahun sebanyak 9 orang (22,5%), yang memiliki umur antara 36-40 tahun sebanyak 17 orang (42,5%), yang memiliki umur antara 41-45 tahun sebanyak 1 orang (2,5%), dan yang memiliki umur antara 46-50 tahun serta umur 50 tahun ke atas tidak ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar