BAB III
LOKASI DAN OBJEK PENELITIAN
3.1 Keadaan Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Berdasarkan informasi yang diterima dari Bagian Arsip dan Dokumentasi BP
RSU dr. Slamet Garut adalah satu-satunya Rumah Sakit Pemerintah Daerah
Kabupaten Garut. Di dirikan pada zaman Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1922,
saat ini kondisi bangunan 50% masih bangunan peninggalan Belanda dan 50% lagi
telah direhab oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Garut.
Luas tanah yang di miliki 38.000 M2, terletak sekitar Kota Garut dan
dapat di capai dengan mudah oleh semua kendaraan. Rumah Sakit Umum lainnya yang
terdekat berjarak 60 Km yang berada pada kabupaten lain. Peralatan kesehatan
yang di miliki umumnya masih konvensional walaupun secara bertahap pengadaan
Alat – alat canggih mulai di adakan antara lain USG, Encloscopy, Audiometri, Triadmill dan lain sebagainya.
Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut potensial untuk di kembangkan, karena
Kabupaten Garut letaknya sebagai penyangga Ibukota Propinsi dan dalam wilayah
pengembangan Bandung Raya. Di samping itu juga lalu lintas antara Garut dan Bandung semakin di
permudah dan di perpendek waktu tempuhnya di karenakan jalannya lebar dan
hotmix, juga akan di bangun jalan tol antara Cileunyi – Nagreg (Renstra Tahun
2007, Bappeda Kabupaten Garut).
- Jenis
Pelayanan
Rumah Sakit Umum dr. Slamet mempunyai kapasitas tempat tidur sebanyak 272,dengan
distribusi spesialisasi sebagai berikut
a.
Unit Penyakit Dalam : 57 Tempat Tidur
b.
Unit Bedah : 52 Tempat Tidur
c.
Kesehatan Anak : 69 Tempat Tidur
d.
Unit Kebidanan dan Kandungan : 42 Tempat Tidur
e.
Unit Rawat Umum : 52 Tempat Tidur
Dalam melaksanakan tugas pokok dan Fungsinya,
RSU dr. Slamet Garut melaksanakan 2 (dua) Jenis Pelayanan. Adapun jenis
Pelayanan yang ada pada RSU dr. Slamrt Kabupaten Garut terdiri dari:
a.
Pelayanan Medik
b.
Pelayanan Penunjang Medik
- Pelayanan
Medik
Pelayanan Medik terdiri dari Pelayanan Rawat Jalan dan pelayanan rawat
Inap.
Pelayanan Rawat Jalan terdiri dari:
1)
Klinik Spesialisasi Penyakit dalam
2)
Klinik Spesialis Bedah
3)
Klinik Spesialis Kebidanan dan Kandungan
4)
Klinik Spesialis THT
5)
Klinik Spesialis Mata
6)
Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin
7)
Klinik Spesialis Syaraf
8)
Klinik Gigi dan Mulut
9)
Klinik Gizi
10) Klinik
Keluarga Berencana
11) Klinik
Tumbuh Kembang Anak
12) Klinik
Jiwa (Part time)
13) Klinik
Arthopedi
14) Klinik
Jantung
15) Klinik
Psikologi
16) Pelayanan
Medis lainnya
§
Instalasi Bedah Central
§
Instalasi Care Unit
§
Instalasi Gawat Darurat
§
Instalasi Rehabilitasi Medik
§
General
Medical Chek up
Pelayanan
rawat inap berdasarkan Ruangan dan Kelas Perawatan,
1) Kelas
III : 78 Tempat Tidur
2) Kelas
II : 92 Tempat Tidur
3) Kelas
I : 54 Tempat Tidur
4) Kelas
Utama : 13 Tempat Tidur
5) VIP
(Intan Sartika) : 35 Tempat Tidur
- Pelayanan
Penunjang Medik
Pelayanan penunjang medik adalah sarana-sarana penunjang yang berupa
alat-alat untuk mendiagnosa penyakit secara akurat, yang fungsinya sebagai
pelengkap pelayanan medik. Adapun penunjang medik yang terdapat di RSU dr.
Slamet adalah:
a.
Instalasi Laboratorium Listrik dan Pathologi Anatomi
b.
Instalasi Radio Diagnostik / Diagnostik Elektromedik
1)
Rontgent
2)
Ultrasonografi (USG)
3)
Elektrokardiogpi (EKG)
4)
Renograf
5)
Endoscopy
6)
Electro Encephalographi
7)
Tread mill
8)
Audiometri
c.
Instalasi Farmasi
d.
Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
e.
Instalasi Gizi
f.
Instalasi Bedah Central dengan 3 Buah kamar Operasi
- Permasalahan
Umum Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut
Permasalahan-permasalahan berdasarkan kenyataan dan fakta empiris yang
dijumpai dilapangan, yang menjadi permasalahan umum di RSU dr. Slamet Kabupaten
Garut adalah:
1.
Dengan diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten
Garut, maka terjadi perubahan kinerja RSU dr. Slamet Kabupaten Garut. semenjak
struktur organisasi dan Tata Kerja yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah
Nomor 20 Tahun 2001 tanggal 22 Juni 2001, pada pelaksanaannya terdapat tumpang
tindih dalam tugas pokok dan fungsinya. Hal ini diakibatkan mutasi dari
lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut. banyak aparat yang tidak mempunyai
keahlian di bidang manajemen maupun medis ditempatkan di RSU dr. Slamet Garut,
sehingga tenaga yang sudah ahli digeser ke bidang lain, tapi dalam kegiatannya
masih mengerjakan keahliannya, sebab yang menggantikannya tidak mampu
mengerjakan pekerjaannya.
2.
Seringkali terjadi perilaku pegawai, baik tenaga medis
ataupun non medis yang selalu membeda-bedakan status sosial pasien, sehingga
dirasakan kurang bersahabat dan kurang ramah. Misalnya dalam memberikan
pelayanan terhadap pasien yang dirawat di kelas III dibandingkan dengan pasien
yang dirawat di VIP.
3.
Pelayanan kesehatan dirasakan oleh sebagian masyarakat
masih lamban dan belum optimal. Misalnya dalam waktu jam periksa, harus jam
08.00 WIB tetapi masih ada yang datang terlambat jam 09.00 WIB.
4.
Perilaku petugas belum berorientasi pada keinginan
pasien untuk mendapatkan pelayanan yang baik dalam pelayanan non teknis seperti
keramahan, hal ini terlihat banyaknya keluhan pengguna jasa rumah sakit.
5.
Pelayanan yang diberikan setiap 1 hari hanya mampu
melayani 5 orang, ini dikarenakan waktu yang memang sangat tidak mencukupi
sedangkan proses menjalankan program ini memakan waktu yang memang cukup lama,
dengan dalih bahwa 1 orang di layanai paling cepat secara administratif memakan
waktu 1 jam.
6.
Masyarakat miskin banyak yang mendaftar dadakan
sehingga mengahambat dalam menjalankan proses pelayanan kepada yang mematuhi
secara administratif.
Kondisi lain yang mempengaruhi permasalahan umum dilihat dari sisi kondisi
riil RSU dr. Slamet berdasarkan informasi yang diperoleh dari BP RSU dr. Slamet
Garut adalah:
a.
Hampir 50% tenaga paramedis dan non medis belum
diangkat sebagai PNS, sehingga tingkat kesejahteraannya masih rendah.
b.
Meskipun pendapatan rumah sakit meningkat tetapi
anggaran biaya operasional dan pemeliharaan apalagi biaya investasi belum
memadai karena hampir 40% dianggarkan bagi honor dan kesejahteraan pegawai.
c.
Pemasaran sosial rumah sakit masih lemah, ini terbukti
hampir 70-80% penderita yang datang berobat hanya pada radius dari 10 KM
d.
Jumlah tempat tidur kelas III dan II + 62,2%
sedangkan jumlah tempat tidur untuk kelas I / utama / VIP + 37,4%,
sehingga subsidi silang belum dapat terpenuhi.
e.
Tarif yang berlaku jauh dibawah unit cost.
f.
Ruangan perawatan perinatologi dan ruang bersalin tidak
memadai.
g.
Jumlah perawat + 60% masih berpendidikan dibawah
D3.
h.
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit kualitasnya
belum baik.
i.
Instalasi Gawat Darurat yang ada, dilihat dari segi
tempat maupun peralatan belum memadai.
j.
Peralatan kedokteran yang muktahir / canggih belum
memadai.
k.
Fasilitas khusus untuk pelayanan Askes Terpadu kurang
memadai.
l.
PNS semakin berkurang, penambahan PNS tidak sebanding
dengan yang pensiun, sementara pemerintah menetapkan zero growth penambahan PNS.
m.
Meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan
kesehatan yang baik karena tingkat pendidikan dan penghasilan yang baik semakin
banyak.
n.
Subsidi Pemerintah Pusat semakin kecil bahkan beberapa
proyek / program sudah tidak ada.
o.
Adanya Rumah Sakit pesaing di luar Rumah Sakit
Kabupaten Garut yang jaraknya lebih dekat, dengan transportasi yang lebih baik.
p.
Angka kematian ibu dan bayi di atas rata-rata AKB dan
AKI regional maupun nasional.
q.
Kunjungan pasien dari keluarga miskin (Gakin) semakin
meningkat.
2. Kebijakan Rumah Sakit Umum dr. Slamet
Kabupaten Garut
Di Era Otonomi Daerah yang serba keterbatasan sumber daya yang tersedia
maka rumah sakit harus dapat mandiri agar tetap eksis keberadaannya dengan
senantiasa berperilaku aktif dan sensitif terhadap segala kebutuhan dan keluhan
masyarakat akan kesehatan, guna menuju Garut Sehat Tahun 2010 dan terwujudnya
Garut Pangirutan yang Tata Tentram Kerta Raharja menuju Ridho Allah, Visi Rumah
Sakit dinyatakan sebagai berikut berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi BP RSU dr.
Slamet Garut, yakni :
a. Visi
“Terwujudnya Rumah Sakit yang mandiri, eksis, proaktif dan sensitif
terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, yang didukung oleh Sumber
Daya Manusia (SDM) yang profesional dan sejahtera untuk tercapainya Garut Sehat
2010”.
b. Misi
Untuk mencapai visi tersebut sekaligus mendukung terwujudnya Visi Dinas
Kesehatan dan Visi Pemerintah Kabupaten Garut maka Badan Pengelola Rumah Sakit
Umum dr. Slamet Kabupaten Garut mempunyai misi sebagai berikut:
a.
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang paripurna,
bermutu terjangkau dengan menjunjung tinggi kode etik serta senantiasa
memperhatikan fungsi sosial;
b.
Menyelenggarakan manajemen keuangan rumah sakit yang
tertib dan profesional;
c.
Menyelenggarakan peningkatan mutu dan kesejahteraan
Sumber Daya Manusia.
3. Arah Kebijakan
a. Tujuan
Untuk mencapai visi dan melaksanakan misi tersebut di atas, maka dalam
jangka pendek (2005-2010) Badan Pengelola Rumah Sakit Umur dr. Slamet Kabupaten
Garut mempunyai tujuan sebagai berikut:
a)
Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan
rumah sakit;
b)
Agar 90% kegiatan operasional rumah sakit dapat
dibiayai dari pendapatan sendiri;
c)
Meningkatkan akuntabilitas publik terhadap kemampuan
pengelolaan rumah sakit;
d)
Petugas melaksanakan tugasnya secara profesional, aman
dan nyaman.
b. Sasaran
Yang menjadi sasaran dari tujuan tersebut di atas adalah:
a) Adanya
peningkatan rujukan rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas ke rumah sakit;
b)
Adanya peningkatan wilayah cakupan pelayanan ke rumah
sakit dari 18 Kecamatan menjadi 37 kecamatan di Kabupaten Garut;
c)
Adanya penurunan keluhan dari masyarakat dan adanya
peningkatan kepuasan pelangga;
d)
Adanya peningkatan penerimaan fungsional rumah sakit;
e)
Terciptanya efisiensi penggunaan dana rumah sakit;
f)
Tercapainya target penerimaan dan disiplin anggaran;
g)
Adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan petugas;
h)
Adanya peningkatan kepuasan bekerja para petugas.
4. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi
a. Kedudukan
Badan pengelola unsur penunjang Pemerintahan Daerah di pengelolaan
pelayanan kesehatan; Badan Pengelola merupakan sistem dari sistem kesehatan
daerah; Badan Pengelola dipimpin seorang kepala yang berada di bawah dan
bertanggung jawab Bupati melalui Sekretaris Daerah.
b. Tugas Pokok
Badan pengelola rumah sakit dr. Slamet Garut mempunyai tugas pokok
sebagai berikut:
1)
Membantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah dengan pelayanan kesehatan lanjutan;
2)
Merumuskan kebijakan sistem kesehatan daerah dalam
bidangnya bersama-sama Dinas Kesehatan Kabupaten;
3)
Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan
berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilakukan
secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan pencegahan serta melaksanakan
upaya rujukan.
4)
Melaksanakan pelayanan bermutu sesuai standar pelayanan
rumah sakit.
c. Fungsi
Untuk menyelenggarakan tugas pokok, fungsi Badan Pengelola yaitu:
a.
Penyelenggaraan pelayanan medis;
b.
Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis;
c.
Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan;
d.
Penyelenggaraan pelayanan rujukan;
e.
Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan;
f.
Penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan;
g.
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.
d. Organisasi
Unsur-unsur Organisasi Badan Pengelola terdiri atas:
a.
Pimpinan adalah Kepala Badan Pengelola;
b.
Pembantu pimpinan adalah Sekretaris;
c.
Pelaksana adalah bidang, instalasi dan kelompok jabatan
fungsional.
e. Susunan Organisasi
(1)
Organisasi Badan Pengelola terdiri atas:
a.
Kepala
b.
Sekretariat membawahkan:
a)
Sub Bagian Umum dan Perlengkapan;
b)
Sub Bagian Kepegawaian dan Diklat;
c)
Sub Bagian Informasi dan Pelayanan Pelanggan;
d)
Sub Bagian Pemasaran Sosial;
e)
Sub Bagian Perencanaan dan Rekam Medik.
c.
Bidang Pelayanan Medis membawahkan:
a)
Sub Bidang Pelayanan Medis I;
b)
Sub Bidang Pelayanan Medis II;
c)
Sub Bidang Pelayanan Medis III.
d.
Bidang Pelayanan Penunjang Medis membawahkan:
a)
Sub Bidang Pelayanan Penunjang Medis I;
b)
Sub Bidang Pelayanan Penunjang Medis II;
c)
Sub Bidang Pelayanan Penunjang Medis III;
e.
Bidang Keperawatan membawahkan:
a)
Sub Bidang Keperawatan I;
b)
Sub Bidang Keperawatan II;
c)
Sub Bidang Keperawatan III;
f.
Bidang Keuangan membawahkan:
a)
Sub Bidang Penyusunan Anggaran;
b)
Sub Bidang Perbendaharaan;
c)
Sub Bidang Akuntansi dan Sistem Komputerisasi Keuangan;
d)
Sub Bidang Mobilisasi Dana dan Kemitraan;
3.2 Keadaan Objek Penelitian
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa penelitian ini di RSU dr. Slamet
Garut. Adapun objek sasaran yang dijadikan responden dalam penelitian ini
adalah pegawai RSU dr. Slamet Garut yang berhubungan dengan pelayanan terhadap
keluarga miskin dengan jumlah keseluruhan 12 orang sebagai responden I, dan 40
orang pasien sebagai responden II dengan menggunakan teknik pengambilan sampel accidental (pengambilan sampel ketika
pasien berobat ke RSU dr. Slamet Garut).
Selanjutnya, penulis kemukakan keadaan responden I berdasarkan tingkat
pendidikan, umur, jenis kelamin dan golongan yang diuraikan sebagai berikut:
1. Keadaan Responden I Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
Tabel 3.1
Keadaan Responden I Berdasarkan
Tingkat Pendidikan
|
No.
|
Pendidikan
|
fi
|
p
|
|
1.
|
Sarjana
|
3
|
25
|
|
2.
|
Diploma
|
5
|
42
|
|
3.
|
SLTA
|
4
|
33
|
|
åfi
|
12
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa tingkat Pendidikan responden I pendidikan
Sarjana (S1) sebanyak 3 responden (25%), tingkat pendidikan Diploma sebanyak 5
responden (42%), dan tingkat pendidikan SLTA sebanyak 4 responden (33%).
Dengan demikian, data karakteristik responden di atas menunjukkan bahwa
responden berpendidikan cukup tinggi sehingga dikategorikan responden mampu
untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Beragamnya latar
belakang pendidikan responden ini akan mampu mengukur keandalan angket yang
diajukan.
2. Keadaan Responden I Berdasarkan Umur
Tabel 3.2
Keadaan Responden I Berdasarkan
Umur
|
No.
|
Umur
|
fi
|
p
|
|
1.
|
26 – 30 Tahun
|
3
|
25
|
|
2.
|
31
– 35 Tahun
|
3
|
25
|
|
3.
|
35
– 40 Tahun
|
2
|
17
|
|
4.
|
41
– 45 Tahun
|
2
|
17
|
|
5.
|
46
– 50 Tahun
|
2
|
17
|
|
6.
|
51
– 55 Tahun
|
0
|
0
|
|
7.
|
56
tahun lebih
|
0
|
0
|
|
åfi
|
12
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa usia 46 – 50 tahun sebanyak
2 responden (17%), usia 41-45 tahun sebanyak 2 responden (17%), usia 35-40
tahun sebanyak 2 responden (17%), usia 31-35 tahun sebanyak 3 responden (25%),
dan usia 26-30 tahun sebanyak 3 responden (25%)
3. Keadaan Responden I Berdasarkan Jenis
Kelamin
Tabel 3.3
Keadaan Responden I Berdasarkan
Jenis Kelamian
|
No.
|
Jenis Kelamin
|
fi
|
p
|
|
1.
|
Laki-laki
|
7
|
58
|
|
2.
|
Perempuan
|
5
|
42
|
|
åfi
|
12
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 7 responden (58%) lebih dominan dari pada perempuan sebanyak 5
responden (42%), hal ini dapat mempengaruhi situasi kerja di RSU dr. Slamet
Garut.
4. Keadaan Responden I Berdasarkan Pangkat /
Golongan
Tabel 3.4
Keadaan Responden I Berdasarkan
Pangkat / Golongan
|
No.
|
Golongan
|
fi
|
p
|
|
1.
|
Golongan IV
|
1
|
8
|
|
2.
|
Golongan
III
|
4
|
33
|
|
3.
|
TKK
|
7
|
58
|
|
åfi
|
12
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Dari tabel di atas
dapat dilihat bahwa mayoritas responden
adalah TKK sebanyak 7 responden (58%), sedangkan golongan III sebanyak 4 responden
(33%), dan untuk golongan IV sebanyak 1 responden
(8%). Responden I dalam hal ini mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dalam
penelitian ini, mengingat pengalaman dan pendidikannya cukup tinggi.
Selanjutnya, penulis kemukakan keadaan responden II berdasarkan tingkat
pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin dan umur diuraikan sebagai berikut:
1. Keadaan Responden II Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
Tabel 3.5
Keadaan Responden II Berdasarkan
Tingkat Pendidikan
|
No.
|
Pendidikan
|
fi
|
p
|
|
1.
|
Sarjana
|
0
|
0
|
|
2.
|
SLTA
|
6
|
15
|
|
3.
|
SLTP
|
13
|
32,5
|
|
4
|
SD
|
21
|
52,5
|
|
åfi
|
40
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, tingkat pendidikan responden II dengan tingkat
pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 0 orang (0%), tingkat pendidikan SLTA sebanyak
6 orang (15%), tingkat pendidikan SLTP 13 orang (32,5%), dan tingkat pendidikan
SD sebanyak 21 orang (52,5%).
Secara umum dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan responden II
relatif rendah dengan sebanyak 52,5% tingkat pendidikan Sekolah Dasar.
2. Keadaan Responden II Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 3.6
Keadaan Responden II Berdasarkan Pekerjaan
|
No.
|
Pekerjaan
|
fi
|
p
|
|
1.
|
PNS
|
0
|
0
|
|
2.
|
Karyawan Swasta
|
7
|
17,5
|
|
3.
|
Mahasiswa
|
1
|
2,5
|
|
4.
|
Wiraswasta
|
14
|
35
|
|
5.
|
Ibu Rumah Tangga
|
18
|
45
|
|
åfi
|
40
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui keadaan responden II
berdasarkan pekerjaan, yaitu responden II yang bekerja sebagai PNS sebanyak 0
orang (0%), bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 7 orang (17,5%), bekerja
sebagai mahasiswa sebanyak 1 orang (2,5%), bekerja sebagai wiraswasta sebanyak
14 orang (35%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 18 orang (45%).
Dari uraian di atas secara mayoritas didasarkan pada tabel 3.6, maka kebanyakan
responden memiliki jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.
3. Keadaan Responden II Berdasarkan Jenis
Kelamin
Tabel 3.7
Keadaan Responden II Berdasarkan
Jenis Kelamin
|
No.
|
Jenis Kelamin
|
fi
|
P
|
|
1.
|
Laki-laki
|
17
|
42,5
|
|
2.
|
Perempuan
|
23
|
57,5
|
|
åfi
|
40
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui keadaan responden II berdasarkan
jenis kelamin, yaitu responden II dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak
dari pada responden laki-laki yaitu 23 orang (57,5%) sedangkan responden
laki-laki sebanyak 17 (42,5%).
4. Keadaan Responden II Berdasarkan Umur
Tabel 3.8
Keadaan Responden II Berdasarkan
Umur
|
No.
|
Umur
|
fi
|
P
|
|
1.
|
15 – 20 Tahun
|
3
|
7,5
|
|
2.
|
21
– 25 Tahun
|
2
|
5
|
|
3.
|
26
– 30 Tahun
|
8
|
20
|
|
4.
|
31
– 35 Tahun
|
9
|
22,5
|
|
5.
|
36
– 40 Tahun
|
17
|
42,5
|
|
6.
|
41
– 45 Tahun
|
1
|
2,5
|
|
7.
|
46
– 50 Tahun
|
0
|
0
|
|
8.
|
50
Tahun ke atas
|
0
|
0
|
|
åfi
|
40
|
100
|
|
Sumber : Hasil Penelitian 2008
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui keadaan responden II
berdasarkan umur antara 15-20 tahun sebanyak 3 orang (7,5%), yang memiliki umur
antara 21-25 tahun sebanyak 2 orang (5%), yang memiliki umur antara 26-30 tahun
sebanyak 8 orang (20%) yang memiliki umur antara 31-35 tahun sebanyak 9 orang (22,5%),
yang memiliki umur antara 36-40 tahun sebanyak 17 orang (42,5%), yang memiliki
umur antara 41-45 tahun sebanyak 1 orang (2,5%), dan yang memiliki umur antara
46-50 tahun serta umur 50 tahun ke atas tidak ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar